Akhirnya Mengerti (bag. 2)


Di saat Reza masuk, dia merasakan ada sesuatu yang mengganjal di bottomnya (hehe…). Dan di saat dia lihat, ternyata secarik  kertas. Reza membuka, spontan dia berbisik lirih pada dirinya sendiri

 

“Wah, di mobil kok ada surat? Baca dulu, ah!”

 

Kak, jangan liat aku sebelum kakak baca. Aku ada di samping kakak. Aku adik kamu kak, Okta. (Eitz jangan nengok, aku tau kok kakak lagi baca)

Kak, Okta cuma mau kasih tau kalo katanya di kamar mama ada surat rahasia, entah apa isinya tapi denger-denger itu isinya ngomongin kakak. Setau Okta sih, katanya itu surat dari ibu kandung kakak. Jadi, wanita yang kakak anggep ibu selama ini itu bukan ibu kandung kakak. Beliau cuma ibu angkat kakak, dan yang tau semua ini cuma kak Aldi, mama, and alm papa juga.

Maaf ya kak, kalo bkin sakit ati,

Reza merasa dipandangi adiknya, diapun memandangnya. Sebuah isyarat, Okta menganggukkan kepalanya.

 

“Apa maksudnya?”  batin Reza. Okta langsung memandang kedepan lagi takut dicurigai oleh mama dan kakaknya.

 

_____?|?|?|?|_____

 

Mobil sudah diparkir di garasi. 3 bersaudara itu sudah berada di kamarnya masing-masing, lalu pesan singkat di HP Reza, datang.

 

OKta

kak, kataNya ntar maLem mama perGi, sama kak Aldi… Okta di ajak ama mama tp aq ga mW,, okta pngen bktiin surat itu ke Kakak… mau kan?

Reza pun membalas

 

Mmmhhh… nanti, klooo ktawan gmana..?

ah, Itu tanggungan okTa aja, Okta uda siapin basa Basi buat mama kok!

Yauda tsrah qm aja, kakak nurut…

___@&*&@___

 

Waktu yang ditunggu mereka berdua tiba, dan benar. Ibu mereka pergi, dengan Aldi. Okta-pun mengagetkan Reza yang masih belajar, mengetok pintunya, begitu histerisnya.

 

“Kak cepat kak, cepat!” ucap Okta lirih di depan pintu.

 

Reza mengerti maksud adiknya, diapun bergegas naik kursi rodanya dan keluar dari kamar. Okta mendorong kursi roda kakaknya, lalu setiba didepan kamar ibunya, Okta mengintip dulu lewat lubang kecil di gagang pintu, apakah ada orang di sana. Ternyata ti3dhaEk! (dibaca: Tidak) Okta-pun membuka kamar ibunya perlahan meskipun di rumah sudah tak ada siapa-siapa selain mereka berdua.

 

Mereka memandangi seisi kamar, banyak sekali barang-barang milik ibunya. Tiba-tiba Okta teringat sesuatu, dan langsung membuka loker lemari pakaian ibunya.

 

“Ketemu kak! Ini suratnya!” Lalu mereka berdua membacanya.

 

Ida adikku, tolong rawat anakku ini baik-baik. Aku hanya bisa menitipkan kepadamu, karena aku yakin kau seorang yang begitu bijaksana untuk merawat anak-anak. Aku tidak tau kapan penyakitku dan penyakit suamiku sembuh setelah kejadian kecelakaan wsaktu itu. Suamimu sudah menjadi korban karena kecelakaan itu, mungkin aku dan suamiku juga mengalaminya. Ini nama untuk anakku, sekiranya kau masih ingat: Ahmad Nur Afreza. Salam hangat dariku beserta keluargaku untuk seisi rumahmu

Okta memandangi wajah kakak iparnya dengan memelas, Reza yakin apa yang dikatakan oleh adiknya. Eh, yakin apa yang Okta tuilskan kepadanya. Dia bukanlah anak kakak pertama, dia hanya keponakan dari ibu Aldi dan Okta. Reza menangis, menangis, baru sekali ini dia menangis seharu itu, yang membuat Okta ikut menangis.

 

Okta-pun mendorong kursi roda Reza ke kamar Reza. Okta meninggalkan kakaknya begitu saja. Entah apa itu maksudnya, hanya 2 kata singkat yang dia keluarkan “Maafin Okta”.

 

 

Ahhh, capek aku nulisnya. Mungkin cukup berhenti di sini, aku bingung endingnya gmn?! Kalo mau yaa kirim’’an email atau sms ma aku ke mentalosmile@gmail.com, insya@ aku bales kok! Babay, ^^

(leganya)

 

By yarits_aghnan Posted in Cerita

Beri komentar tentang ini :)

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s