Akhirnya Mengerti (bag. 1)


Di sebuah kota yang tak begitu ramai, tinggalah 3 anak remaja dengan ibunya. Mereka bernama Reza anak sulung, Aldi anak kedua, dan Okta anak perempuan satu-satunya. Reza adalah satu anak diantara mereka yang cacat, kakinya lumpuh. Kemanapun dia pergi, selalu ditemani kursi rodanya. Reza tak punya teman selain kursi rodanya, Aldi begitu sirik kepadanya. Okta tertular perilaku kakaknya. Begitu juga ibunya, Reza selalu dianggapnya pembantu.

Hidupnya begitu sengsara, tak pernah mendapat kasih sayang kecuali teman kecilnya, Ina. Namun, Ina pindah beberapa tahun yang lalu, di desa neneknya. Kakek dan ayahnya telah tiada. Betapa senangnya Reza jika ibu mengajaknya ke neneknya. Di sanalah kebahagiaan dia dapat. Menggiring bebek, bermain, memberi makan lele, mengantar nasi untuk nenek saat di sawah, selalu ditemani Ina.

“Kak, kenapa sih setiap kakak kesini kayaknya bahagia banget?” Kata Ina tiba-tiba pada Reza.
“Ah, a… a… biasa aja kok!” kata Reza membohongi diri.
“Kapan-kapan Ina boleh ikut ke kota nggak kak?”
“Ah nggak usah, nanti kamu dijadiin pembantu sama aku di kota!”
“Hah? Maksudnya apa kak?’
“E… eh… Nggak, cuma bercanda. Ya kalo mau ikut ke kota bilang sama mamaku, aku sih ngijinin aja!”

“ZA! REZA! Kesini kamu!” Tiba-tiba ibunya memanggil.
“Iya, ma! Sebentar.
Aku kesana dulu ya, In”
“Iya kak!”

Reza mendorong kursi rodanya, membiarkan ibunya mengoceh menyakiti hatinya. Betapa ibunya tak mengerti apa yang dirasakan oleh Reza.

“Siapa tadi yang menjatuhkan teh ibu?! Haa! Pasti kamu, iya kan! Dasar anak kurang ajar!”
PLAK…
Belum sempat Reza mengatakan apa-apa, tanpa perasaan ibunya menampar pipinya. Untung Reza bisa menahannya. Menahan rasa sakit, menahan tangis, menahan ejekan adik-adiknya yang ada di belakang ibunya.
“Sudah sayang, ayo kita masuk!” kata ibunya sambil merangkul kedua adik Reza. Rezapun kembali mendorong kursi rodanya sendirian ke arah Ina. Ina berkata, “Jahat sekali ibumu kak?”
“Memang.”
“Jadi…”
“Iya, itu maksudku kau akan jadi pembantu di kota nanti. Jangan sekali-kali kamu ikut denganku di sana, kamu bisa sengsar.”
“Bahagialah kak, perasaanku selalu mengikut padamu”

Reza tersenyum sambil memeluk temannya itu. Tak di sadari, ibunya memanggilnya lagi. Reza berprasangka buruk, mungkinkah dia ditampar kedua kalinya, dan berganti di pipi satunya?

“Ayo masuk! Kita pulang!”

Kedua adiknya sudah berada di dalam mobil. Reza melambaikan tangannya ke Ina. Inapun membalasnya.

“Cepat! Dasar lelet!”
“I…Iya ma, sebentar, Reza nggak bisa cepet-cepet, sakit” kata Reza.
“Alah, kakak kebanyakan cingcong! Cepet, nanti tuh Aldi ada janji sama temen-temen!” kata Aldi. Hanya Okta yang memandang kakak sulungnya memelas, dia sudah memberi tempat untuk kakaknya saat Reza masuk nanti.

Bersambung…

By yarits_aghnan Posted in Cerita

Beri komentar tentang ini :)

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s